IKLAN

Online Based Media Learning SMK Darul Ma'wa Plumpang

Konfigurasi Mikrotik Menggunakan Virtual Box

Langkah-Langkah konfigurasi Mikrotik :

Sistem Keamanan Jaringan Komputer

Keamanan jaringan adalah suatu cara atau suatu system yang digunakan untuk memberikan proteksi atau perlindungan pada suatu jaringan agar terhindar dari berbagai ancaman luar yang mampu merusak jaringan.

Setting VPN Menggunakan Paket Tracer

VPN adalah singkatan dari “Virtual Private Network”, merupakan suatu koneksi antara satu jaringan dengan jaringan lain secara pribadi melalui jaringan Internet (publik).

Softswitch

Softswitch adalah suatu alat yang mampu menghubungkan antara jaringan sirkuit dengan jaringan paket, termasuk di dalamnya adalah jaringan telpon tetap;(PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler yang telah ada selama ini..

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone Menggunakan 2 Router..

Sabtu, 14 Februari 2026

PENGUKURAN FIBER OPTIK MELALUI SPLITTER 1:4

A. Tujuan Praktik

Setelah praktik ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan fungsi splitter 1:4 dalam jaringan FTTH.

  2. Mengukur redaman sebelum dan sesudah splitter.

  3. Menghitung total loss jaringan.

  4. Membandingkan hasil praktik dengan perhitungan teori.


B. Dasar Teori Tambahan

🔹 Splitter 1:4

Splitter 1:4 adalah perangkat pasif yang membagi 1 sinyal optik menjadi 4 jalur output.

Karena daya dibagi menjadi 4 bagian, maka terjadi redaman tambahan.

🔹 Perhitungan Teori Redaman Splitter 1:4

Losssplitter=10log10(4)Loss_{splitter} = 10 \log_{10}(4)
Losssplitter6 dB–7.5 dB

Standar redaman pabrik splitter 1:4 biasanya:

  • ±7 dB

Semakin besar rasio splitter, semakin besar redamannya.


C. Alat dan Bahan

  • Optical Power Meter (OPM)

  • Optical Network Terminal (OLT)

  • Splitter 1:4

  • Patchcord fiber optik

  • Kabel fiber optik ±200–500 m

  • Adapter SC/LC


D. Langkah Kerja Praktik


1️⃣ Pengukuran Tanpa Splitter (Baseline)

  1. Hubungkan OLT → Kabel → OPM.

  2. Pilih panjang gelombang 1310 nm.

  3. Catat daya input dan output.

  4. Hitung loss kabel:

Loss=PinputPoutput


2️⃣ Pengukuran Dengan Splitter 1:4

Skema:

OLT → Kabel → Splitter 1:4 → Salah satu output → OPM

Langkah:

  1. Hubungkan OLT ke kabel utama.

  2. Sambungkan kabel ke input splitter.

  3. Pilih salah satu dari 4 port output.

  4. Hubungkan ke OPM.

  5. Catat daya output.

  6. Ulangi untuk beberapa port berbeda.


E. Tabel Hasil Pengukuran

🔹 Tanpa Splitter

NoPanjang Gelombang  Daya Input (dBm)  Daya Output (dBm)      Loss Kabel (dB)
11310 nm00.32
21550 nm00.22

🔹 Dengan Splitter 1:4

NoPort OutputDaya Output (dBm)Total Loss (dB)Estimasi Loss Splitter
1Port 1
2Port 2
3Port 3
4Port 4

F. Contoh Perhitungan

Misal:

  • Daya input = -2 dBm

  • Setelah kabel 200 m = -2.3 dBm

  • Setelah splitter = -9.5 dBm

Maka:

  • Loss kabel = 0.3 dB

  • Loss splitter ≈ 7.2 dB

  • Total loss = 7.5 dB

Nilai tersebut masih sesuai dengan teori splitter 1:4 (±7 dB).


G. Analisis yang Harus Dijawab

  1. Berapa selisih loss sebelum dan sesudah splitter?

  2. Apakah hasil mendekati teori ±7 dB?

  3. Mengapa tiap port bisa memiliki nilai berbeda?

  4. Jika jaringan memiliki jarak 3 km + splitter 1:4, apakah masih dalam batas standar redaman?

H. Tabel Redaman


Konfigurasi Static Routing

 


Pada konfigurasi kali ini saya menggunakan ketentuan device dan ip sebagai berikut:
Device yang digunakan :

  • 1 Router
  • 2 Switch
  • 4 Client
IP yang digunakan :
Kamu bisa mengganti ipnya sesuai keinginan dan kebutuhan kamu.
  • 126.10.5.1 (F0/0) =  IP Router 
  • 126.10.5.2 (F0) = IP PC-1
  • 126.10.5.3 (F0) = IP PC-2
  • 172.16.10.1 (F1/0) = IP ROUTER
  • 172.16.10.2 (F0) = IP LAPTOP-1
  • 172.16.10.3 (F0) = IP LAPTOP-2
1. Langkah pertama
susun dan tentukan ip dari device yang akan digunakan. Terlihat pada gambar dibawah, konfigurasi belum dilakukan karena kebel yang menghubungkan device belum berwarna hijau.

2. Langkah ke-2
Konfigurasi devicenya, kamu bisa memulai konfigurasi dari device yang mana saja. Disini saya memulainya dari router.

Dibawah ini merupakan Konfigurasi Router Statatic

Konfigurasi ROUTER (CLI) 
Caranya yaitu klik ROUTER > masuk tab CLI > lalu konfigurasi Routernya seperti berikut.

        --- System Configuration Dialog ---

Continue with configuration dialog? [yes/no]: n

Press RETURN to get started!

Router>en (enable)
Router#conf t (configurasi terminal)
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.

Router(config)# hostname Nama
Router(config)#int f0/0 (interface fastethenet 0/0)
Router(config-if)#ip add 126.10.5.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#int f1/0 (interface fastethenet 1/0)
Router(config-if)#ip add 172.16.10.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet1/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#

Konfigurasi CLIENT 

Caranya yaitu klik CLIENT (PC/Laptop) > masuk tab DESKTOP > klik IP Configuration > lalu konfigurasi IPnya seperti berikut.

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Lakukan konfigurasi client lainnaya sepertia diatas, dengan memasukkan Ip yang telah ditentukan masing-masing.

3. Langkah ke-3.
Lakukan tes, Setelah konfigurasi selesai dilakukan, coba tes apakah semua device sudah terkoneksi dengan benar atau belum.

Tes ping, klik Client > masuk tab Desktop ping Ip
a. Tes ping Client ke Router 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

b. Tes ping Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Tes kirim paket, klik Add Simple PDU (p) > laku klik device yang akan mengirim dan menerima paket, jika berhasil maka hasilnya akan seperti berikut :

c. Tes kirim paket Client ke Router dan Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Routing

Dalam jaringan komputer, proses pengiriman data dari satu perangkat ke perangkat lain bukanlah sesuatu yang terjadi secara sembarangan. Data tidak sekadar “mengalir” begitu saja, melainkan harus melalui rute atau jalur tertentu yang telah ditentukan berdasarkan aturan jaringan. Proses penentuan dan pemilihan jalur inilah yang disebut routing.

Routing menjadi bagian penting dalam jaringan skala menengah hingga besar, terutama saat ada lebih dari satu jaringan yang saling terhubung. Tanpa routing, data tidak akan tahu ke mana harus dikirim, apalagi jika lintas jaringan atau bahkan lintas internet.

1. Pengertian Routing
Apa Itu Routing?

Routing adalah proses pengambilan keputusan tentang jalur terbaik yang harus dilalui oleh data paket dari sumber ke tujuan dalam sebuah jaringan atau antarjaringan. Routing dijalankan oleh perangkat yang disebut router, yang membaca informasi dalam paket data untuk menentukan ke mana paket tersebut harus dikirim.

2. Tujuan Routing dalam Jaringan
Routing memiliki beberapa tujuan utama:
  • Menentukan jalur tercepat atau paling efisien untuk pengiriman data.
  • Menghubungkan beberapa jaringan berbeda, baik dalam skala lokal maupun global.
  • Menghindari kemacetan jaringan, dengan memilih rute alternatif saat terjadi gangguan.
  • Menjaga kestabilan jaringan, dengan sistem pengalihan rute jika jalur utama terputus.
3. Jenis-Jenis Routing
Secara umum, routing dibagi menjadi tiga kategori utama:
a. Static Routing
Routing yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator jaringan. Setiap rute ditentukan dan dimasukkan ke dalam router satu per satu.
b. Dynamic Routing
Routing yang dilakukan secara otomatis oleh router menggunakan protokol routing dinamis. Router saling berbagi informasi untuk membentuk jalur terbaik secara otomatis.
c. Default Routing
Sebuah metode routing di mana semua paket yang tidak memiliki rute spesifik diarahkan ke satu alamat tujuan, yang disebut default gateway.

4. Static Routing

Static routing adalah teknik routing di mana administrator jaringan secara manual menentukan dan memasukkan rute ke dalam tabel routing router. Router akan mengikuti rute yang telah ditetapkan, dan tidak akan berubah kecuali dikonfigurasi ulang.

Karakteristik Static Routing
  • Dikonfigurasi secara manual.
  • Tidak bisa menyesuaikan jika terjadi perubahan topologi jaringan.
  • Cocok untuk jaringan kecil dan stabil.
Kelebihan Static Routing
  • Kontrol penuh terhadap rute.
  • Lebih aman, karena tidak mengandalkan pertukaran informasi antar-router.
  • Lebih ringan, tidak memerlukan banyak sumber daya router.
Kekurangan Static Routing
  • Tidak adaptif, harus diperbarui secara manual saat terjadi perubahan.
  • Sulit dikelola jika jaringan besar dan kompleks.
  • Tidak efisien untuk jaringan dinamis.
Contoh Konfigurasi

Misal, router A terhubung ke jaringan 192.168.2.0/24 melalui router B:


Artinya, jika ingin ke 192.168.2.0/24, kirim data ke 10.0.0.2.

5. Dynamic Routing

Dynamic routing adalah metode di mana router secara otomatis membentuk dan memperbarui tabel routing berdasarkan informasi yang diterima dari router lain melalui protokol dinamis.

Karakteristik Dynamic Routing
  • Berbasis protokol routing seperti RIP, OSPF, EIGRP, BGP.
  • Mampu menyesuaikan perubahan topologi secara otomatis.
  • Cocok untuk jaringan besar dan sering berubah.
Kelebihan Dynamic Routing
  • Adaptif terhadap perubahan jaringan (link down, topologi berubah).
  • Mudah diatur dalam jaringan besar.
  • Redundansi otomatis, mendukung banyak jalur.
Kekurangan Dynamic Routing
  • Lebih kompleks untuk dipelajari dan dikelola.
  • Membutuhkan resource lebih tinggi (CPU dan memori router)
  • Rentan terhadap manipulasi jika tidak dilindungi dengan baik.
Contoh Protokol Dynamic Routing
1. RIP (Routing Information Protocol)
  • Menggunakan hop count sebagai metrik.
  • Maksimum 15 hop.
  • Cocok untuk jaringan kecil.
2. OSPF (Open Shortest Path First)
  • Menggunakan cost (biaya) sebagai metrik.
  • Lebih cepat dan efisien daripada RIP.
  • Cocok untuk jaringan menengah hingga besar.
3. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
  • Protokol hybrid milik Cisco.
  • Lebih efisien dan mendukung VLSM.
4. BGP (Border Gateway Protocol)
  • Digunakan di jaringan antar-AS (internet).
  • Routing utama di level global.
6. Default Routing

Default routing adalah teknik di mana semua lalu lintas yang tidak memiliki rute spesifik diarahkan ke satu alamat gateway tertentu. Biasanya digunakan di jaringan kecil yang hanya terhubung ke satu router.
Contoh Konfigurasi



Artinya, semua rute yang tidak dikenal dikirim ke 192.168.1.1.

7. Perbandingan Static dan Dynamic Routing



8. Kapan Menggunakan Static vs Dynamic Routing?


Static Routing digunakan saat:
  • Jaringan kecil dan topologinya stabil.
  • Koneksi antar-router terbatas dan tetap.
  • Diperlukan kontrol penuh oleh administrator.
Dynamic Routing digunakan saat:
  • Jaringan besar dan dinamis.
  • Perubahan topologi sering terjadi.
  • Banyak rute dan butuh otomatisasi.

Rabu, 11 Februari 2026

Pengertian Subnetting

Subnetting adalah proses pembagian jaringan besar menjadi jaringan-jaringan yang lebih kecil yang disebut subnet. Tujuan dari subnetting adalah untuk mengoptimalkan penggunaan alamat IP dan meningkatkan efisiensi jaringan.

Pada dasarnya, setiap perangkat yang terhubung ke jaringan memerlukan alamat IP unik untuk dapat berkomunikasi dengan perangkat lainnya. Sebelum adanya subnetting, seluruh jaringan harus menggunakan satu alamat IP tunggal, yang disebut sebagai “network address.” Namun, dengan semakin berkembangnya jaringan dan peningkatan jumlah perangkat yang terhubung, semakin terbatasnya alamat IP yang tersedia.

Melalui teknik subnetting, administrator jaringan dapat membagi satu jaringan besar menjadi beberapa subnet yang lebih kecil. Setiap subnet memiliki alamat IP unik dan dapat berisi jumlah perangkat yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan cara ini, penggunaan alamat IP dapat dioptimalkan, dan administrator dapat mengatur lalu lintas jaringan dengan lebih efisien.

Subnetting juga membantu meningkatkan keamanan jaringan. Dengan membagi jaringan menjadi beberapa subnet, administrator dapat mengisolasi beberapa perangkat atau bagian jaringan dari yang lain. Hal ini mengurangi risiko terjadinya serangan dari luar atau perambahan data oleh perangkat yang tidak berwenang.

Secara keseluruhan, subnetting merupakan konsep penting dalam pengelolaan jaringan modern. Dengan menggunakan teknik ini, administrator dapat mengoptimalkan penggunaan alamat IP, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat keamanan jaringan secara keseluruhan.

Perbedaan VLAN dan Subnet
VLAN (Virtual Local Area Network) dan Subnet adalah dua konsep yang berbeda namun seringkali berhubungan dalam pengelolaan jaringan. Berikut adalah perbedaan antara VLAN dan Subnet:

Definisi
VLAN: VLAN adalah teknik untuk memisahkan jaringan fisik menjadi beberapa jaringan logis di dalamnya. Dengan VLAN, perangkat-perangkat dalam jaringan dapat berkomunikasi seolah-olah mereka berada dalam satu jaringan fisik, meskipun sebenarnya mereka terpisah secara fisik.
Subnet: Subnetting adalah proses membagi sebuah jaringan IP besar menjadi beberapa jaringan IP yang lebih kecil. Setiap subnet memiliki alamat IP unik dan dikelompokkan berdasarkan alamat IP tertentu, yang memungkinkan perangkat-perangkat dalam subnet untuk berkomunikasi secara langsung dalam satu jaringan lokal.

Fungsi
VLAN: Fungsi utama VLAN adalah untuk mengelompokkan perangkat-perangkat dalam satu jaringan logis, terlepas dari lokasi fisik mereka. Ini membantu dalam mengatur akses dan keamanan jaringan, serta meningkatkan efisiensi lalu lintas.
Subnet: Subnetting digunakan untuk mengatur dan mengelompokkan perangkat berdasarkan alamat IP mereka. Hal ini membantu dalam mengontrol lalu lintas jaringan dan mengoptimalkan penggunaan alamat IP.

Perangkat yang Terhubung
VLAN: VLAN bekerja pada lapisan data link (Layer 2) dalam model OSI, dan mengelompokkan perangkat-perangkat berdasarkan informasi yang terkandung dalam header frame di tingkat data link.
Subnet: Subnet beroperasi pada lapisan jaringan (Layer 3) dalam model OSI, dan mengelompokkan perangkat-perangkat berdasarkan alamat IP.

Isolasi Jaringan
VLAN: VLAN memungkinkan isolasi jaringan dengan membatasi komunikasi antara VLAN yang berbeda, sehingga mengurangi kemungkinan akses tidak sah atau lalu lintas yang tidak diinginkan.
Subnet: Subnet pada dasarnya memungkinkan semua perangkat dalam satu subnet berkomunikasi satu sama lain tanpa pembatasan. Namun, pengaturan firewall dan konfigurasi router dapat digunakan untuk mengatur izin dan pembatasan antara subnet yang berbeda.

Mengenal VLAN Trunk
VLAN Trunk atau trunking adalah konsep dimana sistem komunikasi dapat menyediakan akses jaringan untuk banyak klien dengan berbagi satu set garis (peraturan) atau frekuensi, bukan memberikannya secara individual
Sekilas mengenai VLAN Mode dan VLAN Header:
Hal ini dapat di temukan pada konfigurasi VLAN menggunakan Router MikroTik.

VLAN Mode
  • Disable, mode ini akan mengabaikan tabel VLan. Jadi trafik akan tetap dihandle baik ada VLan Tag maupun jika tidak mengandung VLan Tag.
  • Fallback (default), mirip dengan mode disable hanya perbedaannya pada mode fallback melakukan pengecekan terhadap tabel VLan. Jika trafik yang masuk dengan VLan Tag tetapi port-nya tidak ada atau tidak sesuai di VLan Tabel maka trafik tersebut tidak akan didrop.
  • Check, mode ini akan men-drop atau tidak meneruskan trafik dengan VLan Tag yang tidak ada di tabel VLan. Namun jika trafik yang masuk dengan VLan Tag tetapi port-nya tidak ada atau tidak sesuai di VLan Tabel maka trafik tersebut akan tetap dihandle.
  • Secure, mode ini akan men-drop apabila trafik yang masuk dengan VLan Tag namun port-nya tidak ada atau tidak sesuai di VLan Tabel. 

VLAN Header

  • leave-as-is : paket data tidak ada perubahan ketika keluar dari port
  • always-strip : akan menghilangkan VLan Header pada paket data
  • add-if-missing : akan menambahkan VLan Header pada paket data

Minggu, 08 Februari 2026

Konfigurasi IP Phone dengan IP Communicator

Router 2811

Switch 2960
IP Phone
PC PT


Konfigurasi pada SW1

Konfigurasi DHCP pada R1 :

option 150 maksudnya adalah ip TFTP Server, TFTP Server itu server yang menyimpan konfigurasi dalam hal ini yang menyman konfigurasi dial-number adalah R1 maka command nya option 150 ip 192.168.10.1, dengan 192.168.10.1 adalah IP R1

Konfigurasi IP Address pada R1 :

Konfigurasi Telphony Service pada R1 :



Konfigurasi IP Communicator

Klik PC
Pilih Tab Dekstop


Setting IP Configuration Menjadi DHCP maka akan mendapatkan IP secara Otomatis dari Server VoIP



Klik Cisco IP Communicator


Jika berhasil maka akan muncul dial number pada IP Communicator


FINISH

Sabtu, 07 Februari 2026

Konfigurasi VLAN 2

Kofigurasi VLAN pada Switch

Perangkat yang digunakan adalah Router seri 1941 dan Switch 2950-24
Hubungkan antara Switch ke Router dan ke PC menggunakan jenis kabel Straight.

Berikut adalah tabel konfigurasi IP, subnet dan VLAN.

Langkah pertama dalah melakukan konfigurasi VLAN pada Switch sebagai berikut :
  • Klik Switch masuk ke Tab CLI dan ketikan kode di bawah ini
Penamaan VLAN

Switch>enable
Switch#conf t
Switch(config)#vlan 20
Switch(config-vlan)#name group.20
Switch(config-vlan)#exit
Switch(config)#vlan 30
Switch(config-vlan)#name group.30
Switch(config-vlan)#exit
Switch(config)#vlan 40
Switch(config-vlan)#name group.40
Switch(config-vlan)#exit

Pengarahan port pada VLAN

Switch(config)#interface fa0/1
Switch(config-if)#switchport mode trunk
Switch(config-if)#exit
Switch(config)#interface fa0/2
Switch(config-if)#switchport mode access (untuk vlan 20)
Switch(config-if)#exit
Switch(config)#interface fa0/3
Switch(config-if)#switchport mode access (untuk vlan 30)
Switch(config-if)#exit
Switch(config)#interface fa0/4
Switch(config-if)#switchport mode access (untuk vlan 40)
Switch(config-if)#exit

Konfigurasi Inter VLAN pada Router

Selanjutnya kita akan konfigurasi Router untuk bisa melakukan inter VLAN terhadap 2 VLAN yang berbeda pada Switch, agar PC0 dan PC1 dapat terhubung.

  • Klik pada perangkat Router kemudian pilih Tab CLI ketik no untuk mengawali, ketikan kode berikut ini :
Membuat interface Virtual dalam Interface Fisik

Router>enable
Router#conf t
Router(config)#interface gi0/0
Router(config-if)#no shutdown
Router(config-if)#exit
Router(config)#interface gi0/0.20
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 20
Router(config-subif)#ip address 192.168.20.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#exit
Router(config)#interface gi0/0.30
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 30
Router(config-subif)#ip address 192.168.30.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#exit
Router(config)#interface gi0/0.40
Router(config-subif)#encapsulation dot1Q 40
Router(config-subif)#ip address 192.168.40.1 255.255.255.0
Router(config-subif)#exit

Rabu, 04 Februari 2026

Prinsip Dasar TCP/IP dan Alamat IP

A. Prinsip Dasar TCP/IP 

  1. Transmission Control Protocol (TCP) Dalam jaringan komputer dan telekomunikasi, TCP/IP merupakan protokol utama yang mendukung koneksi antarperangkat akhir pengguna. TCP/IP sendiri terdiri atas dua bagian dengan fungsi yang berbeda. TCP berfungsi untuk mengatur bagaimana paket data dikirim dan diterima. Adapun IP berfungsi untuk mengatur pengalamatan paket data yang akan dikirimkan.
  2. Encapsulation dan Decapsulation Prinsip kerja jaringan komputer dan telekomunikasi sebenarnya mengikuti prinsip-prinsip di dunia nyata. Untuk mempermudah dalam memahami cara kerja TCP.
  3. TCP Sequence Number Pada pengiriman paket dalam jaringan komputer menggunakan protokol TCP/IP, tidak langsung semua dikirim dan diterima, tetapi ada pemecahan paket menjadi bagian-bagian lebih kecil untuk dikirim, kemudian disusun kembali menjadi paket utuh. 
  4. TCP Three Way Handshake Komunikasi antara perangkat komputer sumber dan perangkat komputer tujuan adalah dengan melakukan tiga langkah jabat tangan (three way handshake) sebagai salam perkenalan. 
  5. Model TCP/IP dan Model OSI Implementasi pengiriman paket data dari perangkat/komputer sumber ke perangkat tujuan, berjalan berdasarkan lapisan (layer) dalam protokol TCP/IP. Layer atau lapisan TCP/IP, dapat dibandingkan dengan sebuah model protokol bernama OSI (Open Sistem Interconnection), yang digunakan sebagai sampel model untuk dipelajari.

B. Internet Protocol (IP)
Internet Protocol menempati lapisan model TCP/IP terbaru pada lapisan ketiga, yaitu Network, yang berfungsi menyediakan informasi alamat IP sumber, alamat IP tujuan, dan routing protokol. Setiap perangkat akhir pengguna pasti memiliki alamat yang disebut alamat IP (IP address) dan setiap paket yang dikirim akan diperiksa alamat IP tujuannya. Jika berada di luar jaringan, routing jaringannya akan diperiksa. Dengan demikian, jika seseorang berpikir tentang alamat IP, hal itu adalah bagian dari protokol TCP/IP pada lapisan ketiga. 

Pada materi tentang TCP, terdapat bahasan tentang header, IP pun
memiliki header.
a. IP Header
IP header memiliki ukuran 32 bit atau 4 byte.
Sebuah IP header dapat digambarkan sebagai berikut.

Version : Bagian ini berisi informasi dari IP yang digunakan. Versi ini menggunakan IPv4 atau IPv6 dengan kapasitas sebesar 4 bit. Contoh: 0100
Header Length : Bagian ini berisi informasi panjang header IPv4 dalam 32 bit. Nilai minimum panjang header adalah 5 sampai dengan 20 bit.
Type of Services : Bagian ini adalah layanan yang digunakan untuk Quality of Service (QoS). Terdapat 8 bit yang dapat digunakan untuk menandai paket dalam memberikan paket perlakuan tertentu, contohnya paket prioritas.
Total Length : Bagian ini memiliki panjang 16 bit, menunjukkan seluruh ukuran paket IP (header dan data). Jadi, minimum header dan data adalah 20 bit dan maksimum adalah 65.535 bit, nilai tertinggi yang dapat dibuat oleh header dan data dari 16 bit.
Identification : Identifikasi digunakan untuk memberikan nomor sebesar 16 bit sebagai pengenal paket yang difragmentasi. Fragmentasi adalah pemecahan paket menjadi beberapa bagian.
IP Flag : Berisi 3 bit yang digunakan fragmentasi. Bit pertama selalu diset 0. Bit kedua disebut DF (don’t fragment/jangan difragmentasi). Bit ketiga dinamakan MF (more fragment), diset pada paket yang akan difragmentasi.
Fragmen Offset : Berisi 13 bit yang digunakan untuk menentukan posisi paket yang akan difragmentasi.
Time to Live : Sebuah paket yang hendak melewati router akan selalu dikurangi 1 pada bagian Time to Live (TTL) agar ketika mencapai nilai 0, router akan membuang paket dan mengirimkan pesan ICMP, yaitu waktu pengiriman melebihi Time to Live. Time to Live digunakan untuk membatasi perjalanan paket berdasarkan waktu agar paket tidak berjalan terus-menerus dan akhirnya looping/berputar. Batasan ini disebut TTL.
Protocol : Bagian ini memiliki panjang 8 bit yang berfungsi untuk memberikan informasi tentang protokol apa yang digunakan TCP dengan nilai 6 atau UDP dengan nilai 17.
Header Checksum : Checksum adalah memeriksa kesalahan data. Header checksum berisi 16 bit, berguna menyimpan data header checksum yang dapat digunakan sebagai pemeriksaan header jika terjadi kesalahan.
Source Address : Bagian ini berisi informasi IP sumber sebesar 32 bit.
Destination Address : Bagian ini berisi informasi IP tujuan sebesar 32 bit.
IP Option : Bagian ini digunakan sebagai pilihan. Jika bagian ini terisi, panjang header akan bertambah. Contoh opsi adalah route source, artinya pengirim meminta jalur route tertentu dari paket data.
Padding: digunakan untuk menambah nol setelah bagian opsi hingga mencapai bilangan bulat 32, sehingga header IP dapat berakhir pada batas 32 bit.
Data : IP Header Data Merupakan data dari yang dienkapsulasi dari lapisan atas dan dikirim ke lapisan bawah.

C. Pengalamatan IP V4

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba untuk membahas mengenai IP Address. Dimana IP ini merupakan alamat Spesifik yang digunakan untuk menentukan alamat spesifik suatu host pada suatu jaringan. Untuk diketahui bahwa IP Address ini merupakan alamat software, bukan alamat hardware.

Ada beberapa pembagian Class alamat IP pada jaringan. Yaitu Class A, B,C,D,dan E. tapi pada pembahasan kali ini, saya tidak akan membahas tentang alamat IP Class D dan E, karena biasa digunakan untuk penelitian dan multicast. Saya hanya akan membahas mengenai alamat IP Class A,B dan C yang biasa digunakan dalam mengelola suatu jaringan. seblum kita membahas lebih jauh tentang pembagian Class, ada beberapa hal yang harus kita pahami dulu dalam pemahaman masalah IP, Karena kita tidak akan lepas dari ini semua, yaitu antara lain :
  • bit, merupakan angka yang hanya terdiri dari 2 digit, yaitu 1 dan 0
  • byte, merupakan pernyataan yang mewakili 8 bit, yaitu 1 byte = 8 bit
  • octet, terdiri dari 8 bit, sama seperti byte, dapat juga ditukar antara penggunaan katanya antara byte dan octet
  • Network Address, merupakan alamat yang menunjukan Network tersebut
  • Host Address, merupakan alamat yang menunjukan Host Tersebut dalam sebuah Network
Beberapa istilah di atas, nantinya akan kita jumpai dalam pembahasan yang akan saya bahas pada pembahasan kali ini.

Dalam IPv4, jumlah alamat IP adalah sebanyak 32 bit atau 4 byte, yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit, sehingga dapat dituliskan seperti contoh berikut :
  • dalam binner : 01000000.00001010.00000110.00000110
  • dalam decimal : 64.10.6.6
  • dalam hexa : 40.0A.06.06
Jika kita lihat dari contoh di atas, maka penulisannya adalah memiliki pola :

x.x.x.x

Jadi skali lagi bahwa IP Address terdiri dari 4 byte yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit. Sekarang kita akan membahas mengenai pembagian class pada IP Address