IKLAN

Online Based Media Learning SMK Darul Ma'wa Plumpang

Konfigurasi Mikrotik Menggunakan Virtual Box

Langkah-Langkah konfigurasi Mikrotik :

Sistem Keamanan Jaringan Komputer

Keamanan jaringan adalah suatu cara atau suatu system yang digunakan untuk memberikan proteksi atau perlindungan pada suatu jaringan agar terhindar dari berbagai ancaman luar yang mampu merusak jaringan.

Setting VPN Menggunakan Paket Tracer

VPN adalah singkatan dari “Virtual Private Network”, merupakan suatu koneksi antara satu jaringan dengan jaringan lain secara pribadi melalui jaringan Internet (publik).

Softswitch

Softswitch adalah suatu alat yang mampu menghubungkan antara jaringan sirkuit dengan jaringan paket, termasuk di dalamnya adalah jaringan telpon tetap;(PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler yang telah ada selama ini..

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone Menggunakan 2 Router..

Minggu, 01 Maret 2026

BAB VI. Sistem Kontrol Dan Monitoring

Pengertian Sistem Kontrol 

Sistem kontrol (sistem kendali) telah memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Di samping sangat diperlukan pada pesawat ruang angkasa, peluru kendali, dan sistem kemudi pesawat, sistem kontrol juga menjadi bagian yang penting dan terpadu dari proses – proses dalam pabrik dan industri modern. Sebagai contoh, sistem kontrol sangat diperlukan dalam operasi – operasi di industri untuk mengontrol tekanan, temperatur, kelembaban, viskositas, dan aliran dalam industri proses, pengerjaan dengan mesin perkakas, penanganan dan perakitan bagian – bagian mekanik dalam industri manufaktur, dan sebagainya. 

Karena kemajuan dalam teori dan praktek sistem kontrol, maka sistem kontrol dapat memberikan kemudahan dalam mendapatkan performasi dari sistem dinamik, mempertinggi kualitas dan menurunkan biaya produksi, mempertinggi laju produksi, meniadakan pekerjaan – pekerjaan rutin dan membosankan yang harus dilakukan oleh manusia, dan sebagainya. 

Pengertian sistem kontrol itu sendiri adalah proses pengaturan / pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada pada suatu harga atau dalam suatu rangkuman harga (range) tertentu. Dalam istilah lain disebut juga teknik pengaturan, sistem pengendalian atau sistem pengontrolan. 

Secara umum sistem kontrol dapat dikelompokkan sebagai berikut : 

1. Dengan operator (manual) dan otomatik. 
2. Jaringan tertutup (closed-loop) dan jaringan terbuka (open-loop). 
3. Kontinu (analog) dan diskontinu (digital, diskrit). 
4. Servo dan regulator. 
5. Menurut sumber penggerak : elektris, pneumatis (udara, angin), hidarulis (cairan), dan mekanis. (kontrol otomatik teori dan penerapan : 1994) 

Sedangkan aksi pengontrolan ada enam aksi yaitu : 

1. Dua posisi (on-off). 
2. Proportional. 
3. Integral. 
4. Proportional plus Integral. 
5. Proportional plus Derivative. 
6. Proportional plus Integral plus Derivative. (teknik kontrol automatik sistem pengaturan jilid 1 : 1985) 


Pengertian Sistem Monitoring 

Layanan yang melakukan proses pengumpulan data dan melakukan analisis terhadap data-data tersebut dengan tujuan untuk memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki 

System monitoring terbagi menjadi dua bagian yaitu : 

· Connection Monitoring 

Teknik monitoring jaringan yang dapat dilakukan dengan melakukan tes ping antara monitoring station dan device target 

· Traffic Monitoring 

Teknik yang digunakan untuk melihat paket sacara actual dari traffic pada jaringan 

Tujuan Sistem Monitoring. 
Untuk mengumpulkan informasi dan data yang berguna dari suatu jaringan sehingga jaringan dapat diatur dan dikontrol. 

Alasan Sistem Monitoring 
Untuk mengawasi apa yang sedang terjadi di dalam jaringan yang memiliki sejumlah besar client dan host, system monitoring juga berguna untuk menjaga dan mendeteksi jaringan apa bila terjadi suatu kesalahan ataupun error. 

SNMP (Simple Network Management Protokol) 

Protocol yang dirancangan untuk memberikan kemampuan memantau dan mengatur jaringan computer secara sistematis, protocol ini juga dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi, dan mengkonfigurasi, peralatan jaringan, seperti 

server, printer, hub, switch, dan router di jaringan yang berbasis Internet Protokol (IP), SNMP juga dapat mengumpulkan informasi seperti kondisi CPU, temperature 

SNMP memiliki tiga elemen yaitu : 

1. Manajer 

Pelaksana dan manajemen jaringan. Pada kenyataan manager ini merupakan computer biasa yang ada pada jaringan yang mengoperasika perangkat lunak untuk manajemen jaringan. Manajer ini terdiri atas satu proses atau lebih yang berkomunikasi dengan agen-agennya dan dalam jaringan. Manajer akan mengumpulkan informasi dari agen dari jaringan yang diminta oleh administrasi saja bukan semua informasi yang dimiliki agent 

2. Agent 

merupakan perangkat lunak yang dijalankan disetiap elemen jaringan yang dikelola. Setiap agent mempunyai basis data variable yang bersifat local yang menerangkan keadaan dan berkas aktivitasnya dan pengaruhnya terhadap operasi 

3. MIB (Management Information Base) 

Dapat dikatakan sebagai struktur basis data variable dari elemen jaringan yang dikelola. Struktur ini bersifat hirarki dan memiliki aturan sedemikian rupa sehingga informasi setiap variable dapat dikelola atau ditetapkan dengan mudah 

Berikut adalah contoh tools monitoring : 

· Angry IP Scanner 

· Nagios 

· PRTG 

· OPMANGER 


Sabtu, 28 Februari 2026

Static Route 2 Router

Topologi
Buatlah topologi seperti dibawah ini.


Dari gambar diatas, semua berstatus down/status kabel merah, karena secara default interface Cisco router berstatus down semua, jadi kita harus mengaktifkannya satu persatu.


Konfigurasi

Konfigurasikan ip disetiap router sesuai dengan topologi.
R1
R1(config)#interface fa0/0
R1(config-if)#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#exit
R1(config)#interface se0/0/0
R1(config-if)#ip address 10.22.33.1 255.255.255.252
R1(config-if)#no shutdown

R2
R2(config)#interface se0/0/0
R2(config-if)#ip address 10.22.33.2 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface fa0/0
R2(config-if)#ip address 10.20.20.1 255.255.255.0
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface se0/0/1
R2(config-if)#ip address 10.22.33.5 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown

Konfigurasikan PC sesuai topologi diatas
PC0
ip : 10.10.10.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.10.10.1
PC1
ip : 10.20.20.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.20.20.1

Dari topologi diatas, coba ping antara PC0 ke PC 1, apakah bisa?

Pasti belum bisa, karena belum ada jalur yang menunjukan jaringan PC1 ke jaringan PC0. disinilah fungsi routing. dengan routing, berarti kita menambah informasi dari jaringan lain yang sebelumnya belum diketahui.

Untuk melakukan routing lakukan ketentuan berikut :
Router(config)#ip route <network tujuan> <subnetmask network tujuan> <ip router next-hop>
Konfigurasi routing static di R1
R1(config)#ip route 10.20.20.0 255.255.255.0 10.22.33.2
R1(config)#ip route 10.22.33.4 255.255.255.252 10.22.33.2
R1(config)#ip route 10.30.30.0 255.255.255.0 10.22.33.2

Konfigurasi routing static di R2
R2(config)#ip route 10.10.10.0 255.255.255.0 10.22.33.1
R2(config)#ip route 10.30.30.0 255.255.255.0 10.22.33.6
Verifikasi
Lihat status route masing-masing router.
R1
R1(config)#do show ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/8 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
C 10.10.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
S 10.20.20.0/24 [1/0] via 10.22.33.2
C 10.22.33.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
S 10.22.33.4/30 [1/0] via 10.22.33.2
S 10.30.30.0/24 [1/0] via 10.22.33.2

R1(config)#
R2
R2(config)#do show ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/8 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
S 10.10.10.0/24 [1/0] via 10.22.33.1
C 10.20.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C 10.22.33.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
C 10.22.33.4/30 is directly connected, Serial0/0/1
S 10.30.30.0/24 [1/0] via 10.22.33.6
R2(config)# 
Lihat status routing dari masing-masing data. ada yang menunjukkan status C dan S. untuk status C ditujukan untuk routing secara connected/routing yang otomatis ada ketika jaringan dihubungkan ke router. Sedangkan untuk status S ditujukan untuk routing yang ditambah secara static oleh Administrator jaringan.

Pengecekan melalui Ping.
Coba ping antara PC 0 ke PC1  Jika sesuai prosedure diatas, semuanya akan berstatus replay.
Pertanyaan:

Kenapa setelah dikonfigurasi routng secara static, antar PC0 ke PC1  bisa saling terhubung?

Kamis, 26 Februari 2026

BAB I Konfigurasi Ekstensi dan dial-plan Server VoIP ( Pengertian Extension dan dial plan pada server VoIP )

Extension adalah sekumpulan perintah yang dijalankan berdasarkan urutan2 dari tingkat prioritasnya. Berbeda dengan PABX , dimana extension biasanya berasosiasi dengan telepon, interface atau menu. Beberapa perintah, seperti Dial atau GotoIf, mempunyai kemampuan untuk berjalan ke perintah lain berdasarkan kondisinya.
Dalam extension asterisk sintax yang digunakan di file extensions.conf , setiap tahapan perintah dalam sebuah extension di tulis dalam format seperti
exten = extension,priority,Command(parameter)
Kesimpulanya, setiap “context” memiliki nama,setiap context dapat mendefenisikan satu atau lebih “extension”.didalam extension kita dapat memasukan sekumpulan perintah.
Komponen yang membangun tahapan perintah extension:
  • Extension adalah label dari extension, dapat berupa string atau pola yang harus di evaluasi secara dinamik untuk mencocokan dengan banyak kemungkinan nomor telepon.dan setiap bagian dari extension harus memiliki label yang sama.
  • Priority biasanya berupa angka integer. Adalah urutan dari perintah yang harus dijalankan dalam sebuah extension. Perintah pertama yang dijalankan harus dengan prioritas 1, jika tidak ada prioritas 1 maka asterisk tidak akan menjalankan perintah extension.dan seterusnya
  • Command atau perintah adalah “aplikasi” yang akan di jalankan oleh Asterisk.
  • Parameter adalah parameter yang harus diberikan kepada sebuah command. Tidak semua command / perintah membutuhkan parameter, beberapa perintah dapat dijalankan tanpa parameter

Pengertian Dial Plan

Dial Plan berfungsi sebagai routing (proses dimana suatu item dapat sampai ke tujuan dari satu lokasi ke lokasi lain) panggilan antar ekstensi, baik yang berada dalam satu IP-PBX (lokal) maupun antar IP-PBX, atau biasa disebut dial trunk.
Dalam server voip asterisk, Dial Plan diprogram dalam suatu file yang bernama extentions.conf, Setiap ekstensi dalam asterisk merujuk kepada user tertentu yang telah terdaftar di asterisk tersebut sehingga biasanya nomor ekstensi sama terhadap user id.

Tugas Pertemuan 1 Pengertian Extension dan Dial Plan pada server VoIP 

Rabu, 25 Februari 2026

Pengalamatan IP pada Jaringan Komputer dan Telekomunikasi

A. Pengalamatan IP V4

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba untuk membahas mengenai IP Address. Dimana IP ini merupakan alamat Spesifik yang digunakan untuk menentukan alamat spesifik suatu host pada suatu jaringan. Untuk diketahui bahwa IP Address ini merupakan alamat software, bukan alamat hardware.

Ada beberapa pembagian Class alamat IP pada jaringan. Yaitu Class A, B,C,D,dan E. tapi pada pembahasan kali ini, saya tidak akan membahas tentang alamat IP Class D dan E, karena biasa digunakan untuk penelitian dan multicast. Saya hanya akan membahas mengenai alamat IP Class A,B dan C yang biasa digunakan dalam mengelola suatu jaringan. seblum kita membahas lebih jauh tentang pembagian Class, ada beberapa hal yang harus kita pahami dulu dalam pemahaman masalah IP, Karena kita tidak akan lepas dari ini semua, yaitu antara lain :
  • bit, merupakan angka yang hanya terdiri dari 2 digit, yaitu 1 dan 0
  • byte, merupakan pernyataan yang mewakili 8 bit, yaitu 1 byte = 8 bit
  • octet, terdiri dari 8 bit, sama seperti byte, dapat juga ditukar antara penggunaan katanya antara byte dan octet
  • Network Address, merupakan alamat yang menunjukan Network tersebut
  • Host Address, merupakan alamat yang menunjukan Host Tersebut dalam sebuah Network
Beberapa istilah di atas, nantinya akan kita jumpai dalam pembahasan yang akan saya bahas pada pembahasan kali ini.

Dalam IPv4, jumlah alamat IP adalah sebanyak 32 bit atau 4 byte, yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit, sehingga dapat dituliskan seperti contoh berikut :




  • dalam binner : 01000000.00001010.00000110.00000110
  • dalam decimal : 64.10.6.6
  • dalam hexa : 40.0A.06.06
Jika kita lihat dari contoh di atas, maka penulisannya adalah memiliki pola :

x.x.x.x

Jadi skali lagi bahwa IP Address terdiri dari 4 byte yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit. Sekarang kita akan membahas mengenai pembagian class pada IP Address , 
pembagian class pada IP Address antara lain :

Class A

Dalam IP class A, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai digit pertama binner pada byte pertama harus harus off atau O, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class A yaitu :

00000000 = 0
s/d
01111111 = 127

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.H.H.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

10.0.0.0 (merupakan Network Address)
10.255.255.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.0.0.0(subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

10.0.0.1
s/d
10.255.255.254

IP Class A ini cocok untuk digunakan dalam Network yang sangat sedikit yang memiliki banyak Host.

Class B

Dalam IP class B, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai digit pertama binner pada byte pertama harus harus ON atau 1, dan nilai digit kedua binner pada byte pertama hasur OFF atau 0, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class B yaitu :

10000000 = 128
s/d
10111111 = 191

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.N.H.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

130.100.0.0 (merupakan Network Address)
130.100.255.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.255.0.0(subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

130.100.0.1
s/d
130.100.255.254

Class C

Dalam IP class C, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai 2 digit pertama binner pada byte pertama harus harus ON atau 1, dan nilai digit ketiga binner pada byte pertama hasur OFF atau 0, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class C yaitu :

11000000 = 192
s/d
11011111 = 223

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.N.N.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

200.200.200.0 (merupakan Network Address)
200.200.200.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.255.255.0 (subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

200.200.200.1
s/d
200.200.200.254

Alamat IP Class C ini biasa digunakan untuk jaringan yang memiliki host yang sedikit.

Konversi IP Address

Desimal ke Biner

Lakukan konversi IPv4: 192.168.10.15 ke bentuk biner.

128

64

32

16

8

4

2

1

 

 

 

 

 

 

 

 


192 : 2 = 96 Sisa 0
96 : 2 = 48 sisa 0
48 : 2 = 24 sisa 0
24 : 2 = 12 sisa 0
12 : 2 = 6 sisa 0
6 : 2 = 3 sisa 0
3 : 2 = 1 sisa 1

192 = 11000000

168 : 2 = 84 sisa 0
84: 2 = 42 sisa 0
42: 2 = 21 sisa 0
21: 2 = 10 sisa 1
10 : 2 = 5 sisa 1
5 : 2 = 2 sisa 1
2 : 2 = 1 sisa 0

168 = 10111000

Biner ke Desimal

Lakukan konversi IPv4: 11001011.00111101.00001010.00100101 ke bentuk desimal

11001011= 203

128

64

32

16

8

4

2

1

 1

 1

 0

0

 1

 0

 1

 1


128+64+8+2+1 = 203

B. Pengalamatan IP V6

IPv6 (Internet Protocol version 6) adalah versi IP address yang menggunakan sistem 128 bit dengan kombinasi angka dan huruf, seperti 2001:cdba:0000:0000:0000:0000:3257:9652. Rangkaian ini juga bisa ditulis menjadi lebih singkat menjadi 2001:cdba::3257:9652.

Jenis alamat IP ini dirancang untuk menggantikan IPv4, dan memiliki jumlah kombinasi yang sangat banyak, yaitu hingga 340 triliun triliun triliun

Sementara itu, IPv4 hanya mampu menyediakan 4,29 miliar IP address. Dengan adanya IPv6, kebutuhan IP address di masa depan bisa terpenuhi tanpa khawatir kehabisan kombinasi angka.

Selain menyediakan kombinasi alamat IP yang hampir tak terbatas, IPv6 juga dirancang dengan fitur-fitur canggih seperti efisiensi routing, keamanan yang lebih baik, dan dukungan untuk teknologi modern seperti IoT dan 5G.

Meski begitu, penggunaan IPv6 masih terhitung lambat. Saat ini, baru sekitar 43% pengguna di dunia yang beralih ke IPv6, sementara sisanya masih menggunakan IPv4.

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang masih dirasa menjadi kekurangan IPv6 di samping berbagai kelebihannya.

Kelebihan dan kekurangan IPv6

IPv6 memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya lebih canggih daripada IPv4. Meski begitu, ada juga beberapa kekurangannya yang menyebabkan jenis alamat IP ini masih jarang digunakan.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan IPv6 dibandingkan dengan IPv4:

Kelebihan IPv6
  • Lebih cepat. IPv6 tidak bergantung pada NAT (Network Address Translation) sehingga proses transfer data bisa lebih cepat.
  • Lebih efektif. Routing table pada IPv6 lebih kecil dibandingkan dengan IPv4, membuat proses routing menjadi lebih efisien dan terstruktur.
  • Lebih aman. Alamat IP ini dilengkapi fitur enkripsi bawaan dan perlindungan terhadap serangan ke ARP (Address Resolution Protocol) yang meningkatkan keamanan saat bertukar data.
  • Hemat bandwidth. IPv6 mendukung multicast, memfasilitasi pengiriman data ke banyak tujuan sekaligus tanpa boros bandwidth.
  • Mudah dikonfigurasi. Proses konfigurasi dilakukan secara otomatis sehingga lebih praktis dibandingkan dengan IPv4.
  • Cocok untuk perangkat seluler. Koneksi ke perangkat seluler lebih cepat karena tidak perlu melewati NAT, yang biasanya memperlambat waktu respons.
Kekurangan IPv6

  • Kompatibilitas belum optimal. Banyak perangkat dan jaringan yang masih menggunakan IPv4 sehingga dukungan untuk IPv6 belum sepenuhnya merata.
  • Peralihan yang lambat. Meski sudah diperkenalkan sejak 1995, penggunaan IPv6 belum mencapai separuh dari keseluruhan perangkat dan jaringan global.
Jadi, IPv6 memang memiliki banyak keunggulan yang membuatnya lebih baik untuk kebutuhan internet modern. Namun, IPv4 saat ini masih mendominasi karena belum banyak infrastruktur global yang mendukung IPv6.

Minggu, 15 Februari 2026

Konfigurasi VoIP : IP Phone, Analog Phone dan IP Communicator

 


Router 2811
Switch 2960
IP Phone
Analog Phone
VoIP Device
PC PT

Network : 192.168.123.0
Number : 12301-12303

Sabtu, 14 Februari 2026

PENGUKURAN FIBER OPTIK MELALUI SPLITTER 1:4

A. Tujuan Praktik

Setelah praktik ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan fungsi splitter 1:4 dalam jaringan FTTH.

  2. Mengukur redaman sebelum dan sesudah splitter.

  3. Menghitung total loss jaringan.

  4. Membandingkan hasil praktik dengan perhitungan teori.


B. Dasar Teori Tambahan

🔹 Splitter 1:4

Splitter 1:4 adalah perangkat pasif yang membagi 1 sinyal optik menjadi 4 jalur output.

Karena daya dibagi menjadi 4 bagian, maka terjadi redaman tambahan.

🔹 Perhitungan Teori Redaman Splitter 1:4

Losssplitter=10log10(4)Loss_{splitter} = 10 \log_{10}(4)
Losssplitter6 dB–7.5 dB

Standar redaman pabrik splitter 1:4 biasanya:

  • ±7 dB

Semakin besar rasio splitter, semakin besar redamannya.


C. Alat dan Bahan

  • Optical Power Meter (OPM)

  • Optical Network Terminal (OLT)

  • Splitter 1:4

  • Patchcord fiber optik

  • Kabel fiber optik ±200–500 m

  • Adapter SC/LC


D. Langkah Kerja Praktik


1️⃣ Pengukuran Tanpa Splitter (Baseline)

  1. Hubungkan OLT → Kabel → OPM.

  2. Pilih panjang gelombang 1310 nm.

  3. Catat daya input dan output.

  4. Hitung loss kabel:

Loss=PinputPoutput


2️⃣ Pengukuran Dengan Splitter 1:4

Skema:

OLT → Kabel → Splitter 1:4 → Salah satu output → OPM

Langkah:

  1. Hubungkan OLT ke kabel utama.

  2. Sambungkan kabel ke input splitter.

  3. Pilih salah satu dari 4 port output.

  4. Hubungkan ke OPM.

  5. Catat daya output.

  6. Ulangi untuk beberapa port berbeda.


E. Tabel Hasil Pengukuran

🔹 Tanpa Splitter

NoPanjang Gelombang  Daya Input (dBm)  Daya Output (dBm)      Loss Kabel (dB)
11310 nm00.32
21550 nm00.22

🔹 Dengan Splitter 1:4

NoPort OutputDaya Output (dBm)Total Loss (dB)Estimasi Loss Splitter
1Port 1
2Port 2
3Port 3
4Port 4

F. Contoh Perhitungan

Misal:

  • Daya input = -2 dBm

  • Setelah kabel 200 m = -2.3 dBm

  • Setelah splitter = -9.5 dBm

Maka:

  • Loss kabel = 0.3 dB

  • Loss splitter ≈ 7.2 dB

  • Total loss = 7.5 dB

Nilai tersebut masih sesuai dengan teori splitter 1:4 (±7 dB).


G. Analisis yang Harus Dijawab

  1. Berapa selisih loss sebelum dan sesudah splitter?

  2. Apakah hasil mendekati teori ±7 dB?

  3. Mengapa tiap port bisa memiliki nilai berbeda?

  4. Jika jaringan memiliki jarak 3 km + splitter 1:4, apakah masih dalam batas standar redaman?

H. Tabel Redaman


Konfigurasi Static Routing

 


Pada konfigurasi kali ini saya menggunakan ketentuan device dan ip sebagai berikut:
Device yang digunakan :

  • 1 Router
  • 2 Switch
  • 4 Client
IP yang digunakan :
Kamu bisa mengganti ipnya sesuai keinginan dan kebutuhan kamu.
  • 126.10.5.1 (F0/0) =  IP Router 
  • 126.10.5.2 (F0) = IP PC-1
  • 126.10.5.3 (F0) = IP PC-2
  • 172.16.10.1 (F1/0) = IP ROUTER
  • 172.16.10.2 (F0) = IP LAPTOP-1
  • 172.16.10.3 (F0) = IP LAPTOP-2
1. Langkah pertama
susun dan tentukan ip dari device yang akan digunakan. Terlihat pada gambar dibawah, konfigurasi belum dilakukan karena kebel yang menghubungkan device belum berwarna hijau.

2. Langkah ke-2
Konfigurasi devicenya, kamu bisa memulai konfigurasi dari device yang mana saja. Disini saya memulainya dari router.

Dibawah ini merupakan Konfigurasi Router Statatic

Konfigurasi ROUTER (CLI) 
Caranya yaitu klik ROUTER > masuk tab CLI > lalu konfigurasi Routernya seperti berikut.

        --- System Configuration Dialog ---

Continue with configuration dialog? [yes/no]: n

Press RETURN to get started!

Router>en (enable)
Router#conf t (configurasi terminal)
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.

Router(config)# hostname Nama
Router(config)#int f0/0 (interface fastethenet 0/0)
Router(config-if)#ip add 126.10.5.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#int f1/0 (interface fastethenet 1/0)
Router(config-if)#ip add 172.16.10.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet1/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#

Konfigurasi CLIENT 

Caranya yaitu klik CLIENT (PC/Laptop) > masuk tab DESKTOP > klik IP Configuration > lalu konfigurasi IPnya seperti berikut.

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Lakukan konfigurasi client lainnaya sepertia diatas, dengan memasukkan Ip yang telah ditentukan masing-masing.

3. Langkah ke-3.
Lakukan tes, Setelah konfigurasi selesai dilakukan, coba tes apakah semua device sudah terkoneksi dengan benar atau belum.

Tes ping, klik Client > masuk tab Desktop ping Ip
a. Tes ping Client ke Router 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

b. Tes ping Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Tes kirim paket, klik Add Simple PDU (p) > laku klik device yang akan mengirim dan menerima paket, jika berhasil maka hasilnya akan seperti berikut :

c. Tes kirim paket Client ke Router dan Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1