IKLAN

Online Based Media Learning SMK Darul Ma'wa Plumpang

Konfigurasi Mikrotik Menggunakan Virtual Box

Langkah-Langkah konfigurasi Mikrotik :

Sistem Keamanan Jaringan Komputer

Keamanan jaringan adalah suatu cara atau suatu system yang digunakan untuk memberikan proteksi atau perlindungan pada suatu jaringan agar terhindar dari berbagai ancaman luar yang mampu merusak jaringan.

Setting VPN Menggunakan Paket Tracer

VPN adalah singkatan dari “Virtual Private Network”, merupakan suatu koneksi antara satu jaringan dengan jaringan lain secara pribadi melalui jaringan Internet (publik).

Softswitch

Softswitch adalah suatu alat yang mampu menghubungkan antara jaringan sirkuit dengan jaringan paket, termasuk di dalamnya adalah jaringan telpon tetap;(PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler yang telah ada selama ini..

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone Menggunakan 2 Router..

Rabu, 25 Februari 2026

Pengalamatan IP pada Jaringan Komputer dan Telekomunikasi

A. Pengalamatan IP V4

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba untuk membahas mengenai IP Address. Dimana IP ini merupakan alamat Spesifik yang digunakan untuk menentukan alamat spesifik suatu host pada suatu jaringan. Untuk diketahui bahwa IP Address ini merupakan alamat software, bukan alamat hardware.

Ada beberapa pembagian Class alamat IP pada jaringan. Yaitu Class A, B,C,D,dan E. tapi pada pembahasan kali ini, saya tidak akan membahas tentang alamat IP Class D dan E, karena biasa digunakan untuk penelitian dan multicast. Saya hanya akan membahas mengenai alamat IP Class A,B dan C yang biasa digunakan dalam mengelola suatu jaringan. seblum kita membahas lebih jauh tentang pembagian Class, ada beberapa hal yang harus kita pahami dulu dalam pemahaman masalah IP, Karena kita tidak akan lepas dari ini semua, yaitu antara lain :
  • bit, merupakan angka yang hanya terdiri dari 2 digit, yaitu 1 dan 0
  • byte, merupakan pernyataan yang mewakili 8 bit, yaitu 1 byte = 8 bit
  • octet, terdiri dari 8 bit, sama seperti byte, dapat juga ditukar antara penggunaan katanya antara byte dan octet
  • Network Address, merupakan alamat yang menunjukan Network tersebut
  • Host Address, merupakan alamat yang menunjukan Host Tersebut dalam sebuah Network
Beberapa istilah di atas, nantinya akan kita jumpai dalam pembahasan yang akan saya bahas pada pembahasan kali ini.

Dalam IPv4, jumlah alamat IP adalah sebanyak 32 bit atau 4 byte, yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit, sehingga dapat dituliskan seperti contoh berikut :




  • dalam binner : 01000000.00001010.00000110.00000110
  • dalam decimal : 64.10.6.6
  • dalam hexa : 40.0A.06.06
Jika kita lihat dari contoh di atas, maka penulisannya adalah memiliki pola :

x.x.x.x

Jadi skali lagi bahwa IP Address terdiri dari 4 byte yang masing-masing byte terdiri dari 8 bit. Sekarang kita akan membahas mengenai pembagian class pada IP Address , 
pembagian class pada IP Address antara lain :

Class A

Dalam IP class A, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai digit pertama binner pada byte pertama harus harus off atau O, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class A yaitu :

00000000 = 0
s/d
01111111 = 127

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.H.H.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

10.0.0.0 (merupakan Network Address)
10.255.255.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.0.0.0(subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

10.0.0.1
s/d
10.255.255.254

IP Class A ini cocok untuk digunakan dalam Network yang sangat sedikit yang memiliki banyak Host.

Class B

Dalam IP class B, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai digit pertama binner pada byte pertama harus harus ON atau 1, dan nilai digit kedua binner pada byte pertama hasur OFF atau 0, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class B yaitu :

10000000 = 128
s/d
10111111 = 191

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.N.H.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

130.100.0.0 (merupakan Network Address)
130.100.255.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.255.0.0(subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

130.100.0.1
s/d
130.100.255.254

Class C

Dalam IP class C, terdapat ketentuan yang harus kita perhatikan, yaitu bahwa nilai 2 digit pertama binner pada byte pertama harus harus ON atau 1, dan nilai digit ketiga binner pada byte pertama hasur OFF atau 0, sehingga dapat dituliskan bahwa range alamt IP Class C yaitu :

11000000 = 192
s/d
11011111 = 223

dimana Penentuan Network Address dan Host Address pada IP Class A adalah :

N.N.N.H
Ket:
N = Network Address
H = Host Address

sehingga untuk mengetahui IP yang sah yang dapat digunakan dalam jaringan yaitu IP yang berada di antara NETWORK ADDRESS dan BROADCAST, adalah seperti contoh IP berikut ;

200.200.200.0 (merupakan Network Address)
200.200.200.255 (merupakan Alamat Broadcast)
255.255.255.0 (subnet mask)

IP yang sah yang dapat digunakan yaitu mulai dari :

200.200.200.1
s/d
200.200.200.254

Alamat IP Class C ini biasa digunakan untuk jaringan yang memiliki host yang sedikit.

Konversi IP Address

Desimal ke Biner

Lakukan konversi IPv4: 192.168.10.15 ke bentuk biner.

128

64

32

16

8

4

2

1

 

 

 

 

 

 

 

 


192 : 2 = 96 Sisa 0
96 : 2 = 48 sisa 0
48 : 2 = 24 sisa 0
24 : 2 = 12 sisa 0
12 : 2 = 6 sisa 0
6 : 2 = 3 sisa 0
3 : 2 = 1 sisa 1

192 = 11000000

168 : 2 = 84 sisa 0
84: 2 = 42 sisa 0
42: 2 = 21 sisa 0
21: 2 = 10 sisa 1
10 : 2 = 5 sisa 1
5 : 2 = 2 sisa 1
2 : 2 = 1 sisa 0

168 = 10111000

Biner ke Desimal

Lakukan konversi IPv4: 11001011.00111101.00001010.00100101 ke bentuk desimal

11001011= 203

128

64

32

16

8

4

2

1

 1

 1

 0

0

 1

 0

 1

 1


128+64+8+2+1 = 203

B. Pengalamatan IP V6

IPv6 (Internet Protocol version 6) adalah versi IP address yang menggunakan sistem 128 bit dengan kombinasi angka dan huruf, seperti 2001:cdba:0000:0000:0000:0000:3257:9652. Rangkaian ini juga bisa ditulis menjadi lebih singkat menjadi 2001:cdba::3257:9652.

Jenis alamat IP ini dirancang untuk menggantikan IPv4, dan memiliki jumlah kombinasi yang sangat banyak, yaitu hingga 340 triliun triliun triliun

Sementara itu, IPv4 hanya mampu menyediakan 4,29 miliar IP address. Dengan adanya IPv6, kebutuhan IP address di masa depan bisa terpenuhi tanpa khawatir kehabisan kombinasi angka.

Selain menyediakan kombinasi alamat IP yang hampir tak terbatas, IPv6 juga dirancang dengan fitur-fitur canggih seperti efisiensi routing, keamanan yang lebih baik, dan dukungan untuk teknologi modern seperti IoT dan 5G.

Meski begitu, penggunaan IPv6 masih terhitung lambat. Saat ini, baru sekitar 43% pengguna di dunia yang beralih ke IPv6, sementara sisanya masih menggunakan IPv4.

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang masih dirasa menjadi kekurangan IPv6 di samping berbagai kelebihannya.

Kelebihan dan kekurangan IPv6

IPv6 memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya lebih canggih daripada IPv4. Meski begitu, ada juga beberapa kekurangannya yang menyebabkan jenis alamat IP ini masih jarang digunakan.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan IPv6 dibandingkan dengan IPv4:

Kelebihan IPv6
  • Lebih cepat. IPv6 tidak bergantung pada NAT (Network Address Translation) sehingga proses transfer data bisa lebih cepat.
  • Lebih efektif. Routing table pada IPv6 lebih kecil dibandingkan dengan IPv4, membuat proses routing menjadi lebih efisien dan terstruktur.
  • Lebih aman. Alamat IP ini dilengkapi fitur enkripsi bawaan dan perlindungan terhadap serangan ke ARP (Address Resolution Protocol) yang meningkatkan keamanan saat bertukar data.
  • Hemat bandwidth. IPv6 mendukung multicast, memfasilitasi pengiriman data ke banyak tujuan sekaligus tanpa boros bandwidth.
  • Mudah dikonfigurasi. Proses konfigurasi dilakukan secara otomatis sehingga lebih praktis dibandingkan dengan IPv4.
  • Cocok untuk perangkat seluler. Koneksi ke perangkat seluler lebih cepat karena tidak perlu melewati NAT, yang biasanya memperlambat waktu respons.
Kekurangan IPv6

  • Kompatibilitas belum optimal. Banyak perangkat dan jaringan yang masih menggunakan IPv4 sehingga dukungan untuk IPv6 belum sepenuhnya merata.
  • Peralihan yang lambat. Meski sudah diperkenalkan sejak 1995, penggunaan IPv6 belum mencapai separuh dari keseluruhan perangkat dan jaringan global.
Jadi, IPv6 memang memiliki banyak keunggulan yang membuatnya lebih baik untuk kebutuhan internet modern. Namun, IPv4 saat ini masih mendominasi karena belum banyak infrastruktur global yang mendukung IPv6.

Minggu, 15 Februari 2026

Konfigurasi VoIP : IP Phone, Analog Phone dan IP Communicator

 


Router 2811
Switch 2960
IP Phone
Analog Phone
VoIP Device
PC PT

Network : 192.168.123.0
Number : 12301-12303

Sabtu, 14 Februari 2026

PENGUKURAN FIBER OPTIK MELALUI SPLITTER 1:4

A. Tujuan Praktik

Setelah praktik ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan fungsi splitter 1:4 dalam jaringan FTTH.

  2. Mengukur redaman sebelum dan sesudah splitter.

  3. Menghitung total loss jaringan.

  4. Membandingkan hasil praktik dengan perhitungan teori.


B. Dasar Teori Tambahan

🔹 Splitter 1:4

Splitter 1:4 adalah perangkat pasif yang membagi 1 sinyal optik menjadi 4 jalur output.

Karena daya dibagi menjadi 4 bagian, maka terjadi redaman tambahan.

🔹 Perhitungan Teori Redaman Splitter 1:4

Losssplitter=10log10(4)Loss_{splitter} = 10 \log_{10}(4)
Losssplitter6 dB–7.5 dB

Standar redaman pabrik splitter 1:4 biasanya:

  • ±7 dB

Semakin besar rasio splitter, semakin besar redamannya.


C. Alat dan Bahan

  • Optical Power Meter (OPM)

  • Optical Network Terminal (OLT)

  • Splitter 1:4

  • Patchcord fiber optik

  • Kabel fiber optik ±200–500 m

  • Adapter SC/LC


D. Langkah Kerja Praktik


1️⃣ Pengukuran Tanpa Splitter (Baseline)

  1. Hubungkan OLT → Kabel → OPM.

  2. Pilih panjang gelombang 1310 nm.

  3. Catat daya input dan output.

  4. Hitung loss kabel:

Loss=PinputPoutput


2️⃣ Pengukuran Dengan Splitter 1:4

Skema:

OLT → Kabel → Splitter 1:4 → Salah satu output → OPM

Langkah:

  1. Hubungkan OLT ke kabel utama.

  2. Sambungkan kabel ke input splitter.

  3. Pilih salah satu dari 4 port output.

  4. Hubungkan ke OPM.

  5. Catat daya output.

  6. Ulangi untuk beberapa port berbeda.


E. Tabel Hasil Pengukuran

🔹 Tanpa Splitter

NoPanjang Gelombang  Daya Input (dBm)  Daya Output (dBm)      Loss Kabel (dB)
11310 nm00.32
21550 nm00.22

🔹 Dengan Splitter 1:4

NoPort OutputDaya Output (dBm)Total Loss (dB)Estimasi Loss Splitter
1Port 1
2Port 2
3Port 3
4Port 4

F. Contoh Perhitungan

Misal:

  • Daya input = -2 dBm

  • Setelah kabel 200 m = -2.3 dBm

  • Setelah splitter = -9.5 dBm

Maka:

  • Loss kabel = 0.3 dB

  • Loss splitter ≈ 7.2 dB

  • Total loss = 7.5 dB

Nilai tersebut masih sesuai dengan teori splitter 1:4 (±7 dB).


G. Analisis yang Harus Dijawab

  1. Berapa selisih loss sebelum dan sesudah splitter?

  2. Apakah hasil mendekati teori ±7 dB?

  3. Mengapa tiap port bisa memiliki nilai berbeda?

  4. Jika jaringan memiliki jarak 3 km + splitter 1:4, apakah masih dalam batas standar redaman?

H. Tabel Redaman


Konfigurasi Static Routing

 


Pada konfigurasi kali ini saya menggunakan ketentuan device dan ip sebagai berikut:
Device yang digunakan :

  • 1 Router
  • 2 Switch
  • 4 Client
IP yang digunakan :
Kamu bisa mengganti ipnya sesuai keinginan dan kebutuhan kamu.
  • 126.10.5.1 (F0/0) =  IP Router 
  • 126.10.5.2 (F0) = IP PC-1
  • 126.10.5.3 (F0) = IP PC-2
  • 172.16.10.1 (F1/0) = IP ROUTER
  • 172.16.10.2 (F0) = IP LAPTOP-1
  • 172.16.10.3 (F0) = IP LAPTOP-2
1. Langkah pertama
susun dan tentukan ip dari device yang akan digunakan. Terlihat pada gambar dibawah, konfigurasi belum dilakukan karena kebel yang menghubungkan device belum berwarna hijau.

2. Langkah ke-2
Konfigurasi devicenya, kamu bisa memulai konfigurasi dari device yang mana saja. Disini saya memulainya dari router.

Dibawah ini merupakan Konfigurasi Router Statatic

Konfigurasi ROUTER (CLI) 
Caranya yaitu klik ROUTER > masuk tab CLI > lalu konfigurasi Routernya seperti berikut.

        --- System Configuration Dialog ---

Continue with configuration dialog? [yes/no]: n

Press RETURN to get started!

Router>en (enable)
Router#conf t (configurasi terminal)
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.

Router(config)# hostname Nama
Router(config)#int f0/0 (interface fastethenet 0/0)
Router(config-if)#ip add 126.10.5.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#int f1/0 (interface fastethenet 1/0)
Router(config-if)#ip add 172.16.10.1 255.255.255.248 (ip address)
Router(config-if)#no shut (no shutdown)

Router(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet1/0, changed state to up

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet1/0, changed state to up

Router(config-if)#ex (exit)
Router(config)#

Konfigurasi CLIENT 

Caranya yaitu klik CLIENT (PC/Laptop) > masuk tab DESKTOP > klik IP Configuration > lalu konfigurasi IPnya seperti berikut.

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Lakukan konfigurasi client lainnaya sepertia diatas, dengan memasukkan Ip yang telah ditentukan masing-masing.

3. Langkah ke-3.
Lakukan tes, Setelah konfigurasi selesai dilakukan, coba tes apakah semua device sudah terkoneksi dengan benar atau belum.

Tes ping, klik Client > masuk tab Desktop ping Ip
a. Tes ping Client ke Router 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

b. Tes ping Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Tes kirim paket, klik Add Simple PDU (p) > laku klik device yang akan mengirim dan menerima paket, jika berhasil maka hasilnya akan seperti berikut :

c. Tes kirim paket Client ke Router dan Client ke Client 

KONFIGURASI ROUTING STATIC CISCO PACKET TRACER (CLI) #1

Routing

Dalam jaringan komputer, proses pengiriman data dari satu perangkat ke perangkat lain bukanlah sesuatu yang terjadi secara sembarangan. Data tidak sekadar “mengalir” begitu saja, melainkan harus melalui rute atau jalur tertentu yang telah ditentukan berdasarkan aturan jaringan. Proses penentuan dan pemilihan jalur inilah yang disebut routing.

Routing menjadi bagian penting dalam jaringan skala menengah hingga besar, terutama saat ada lebih dari satu jaringan yang saling terhubung. Tanpa routing, data tidak akan tahu ke mana harus dikirim, apalagi jika lintas jaringan atau bahkan lintas internet.

1. Pengertian Routing
Apa Itu Routing?

Routing adalah proses pengambilan keputusan tentang jalur terbaik yang harus dilalui oleh data paket dari sumber ke tujuan dalam sebuah jaringan atau antarjaringan. Routing dijalankan oleh perangkat yang disebut router, yang membaca informasi dalam paket data untuk menentukan ke mana paket tersebut harus dikirim.

2. Tujuan Routing dalam Jaringan
Routing memiliki beberapa tujuan utama:
  • Menentukan jalur tercepat atau paling efisien untuk pengiriman data.
  • Menghubungkan beberapa jaringan berbeda, baik dalam skala lokal maupun global.
  • Menghindari kemacetan jaringan, dengan memilih rute alternatif saat terjadi gangguan.
  • Menjaga kestabilan jaringan, dengan sistem pengalihan rute jika jalur utama terputus.
3. Jenis-Jenis Routing
Secara umum, routing dibagi menjadi tiga kategori utama:
a. Static Routing
Routing yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator jaringan. Setiap rute ditentukan dan dimasukkan ke dalam router satu per satu.
b. Dynamic Routing
Routing yang dilakukan secara otomatis oleh router menggunakan protokol routing dinamis. Router saling berbagi informasi untuk membentuk jalur terbaik secara otomatis.
c. Default Routing
Sebuah metode routing di mana semua paket yang tidak memiliki rute spesifik diarahkan ke satu alamat tujuan, yang disebut default gateway.

4. Static Routing

Static routing adalah teknik routing di mana administrator jaringan secara manual menentukan dan memasukkan rute ke dalam tabel routing router. Router akan mengikuti rute yang telah ditetapkan, dan tidak akan berubah kecuali dikonfigurasi ulang.

Karakteristik Static Routing
  • Dikonfigurasi secara manual.
  • Tidak bisa menyesuaikan jika terjadi perubahan topologi jaringan.
  • Cocok untuk jaringan kecil dan stabil.
Kelebihan Static Routing
  • Kontrol penuh terhadap rute.
  • Lebih aman, karena tidak mengandalkan pertukaran informasi antar-router.
  • Lebih ringan, tidak memerlukan banyak sumber daya router.
Kekurangan Static Routing
  • Tidak adaptif, harus diperbarui secara manual saat terjadi perubahan.
  • Sulit dikelola jika jaringan besar dan kompleks.
  • Tidak efisien untuk jaringan dinamis.
Contoh Konfigurasi

Misal, router A terhubung ke jaringan 192.168.2.0/24 melalui router B:


Artinya, jika ingin ke 192.168.2.0/24, kirim data ke 10.0.0.2.

5. Dynamic Routing

Dynamic routing adalah metode di mana router secara otomatis membentuk dan memperbarui tabel routing berdasarkan informasi yang diterima dari router lain melalui protokol dinamis.

Karakteristik Dynamic Routing
  • Berbasis protokol routing seperti RIP, OSPF, EIGRP, BGP.
  • Mampu menyesuaikan perubahan topologi secara otomatis.
  • Cocok untuk jaringan besar dan sering berubah.
Kelebihan Dynamic Routing
  • Adaptif terhadap perubahan jaringan (link down, topologi berubah).
  • Mudah diatur dalam jaringan besar.
  • Redundansi otomatis, mendukung banyak jalur.
Kekurangan Dynamic Routing
  • Lebih kompleks untuk dipelajari dan dikelola.
  • Membutuhkan resource lebih tinggi (CPU dan memori router)
  • Rentan terhadap manipulasi jika tidak dilindungi dengan baik.
Contoh Protokol Dynamic Routing
1. RIP (Routing Information Protocol)
  • Menggunakan hop count sebagai metrik.
  • Maksimum 15 hop.
  • Cocok untuk jaringan kecil.
2. OSPF (Open Shortest Path First)
  • Menggunakan cost (biaya) sebagai metrik.
  • Lebih cepat dan efisien daripada RIP.
  • Cocok untuk jaringan menengah hingga besar.
3. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
  • Protokol hybrid milik Cisco.
  • Lebih efisien dan mendukung VLSM.
4. BGP (Border Gateway Protocol)
  • Digunakan di jaringan antar-AS (internet).
  • Routing utama di level global.
6. Default Routing

Default routing adalah teknik di mana semua lalu lintas yang tidak memiliki rute spesifik diarahkan ke satu alamat gateway tertentu. Biasanya digunakan di jaringan kecil yang hanya terhubung ke satu router.
Contoh Konfigurasi



Artinya, semua rute yang tidak dikenal dikirim ke 192.168.1.1.

7. Perbandingan Static dan Dynamic Routing



8. Kapan Menggunakan Static vs Dynamic Routing?


Static Routing digunakan saat:
  • Jaringan kecil dan topologinya stabil.
  • Koneksi antar-router terbatas dan tetap.
  • Diperlukan kontrol penuh oleh administrator.
Dynamic Routing digunakan saat:
  • Jaringan besar dan dinamis.
  • Perubahan topologi sering terjadi.
  • Banyak rute dan butuh otomatisasi.