IKLAN

Online Based Media Learning SMK Darul Ma'wa Plumpang

Konfigurasi Mikrotik Menggunakan Virtual Box

Langkah-Langkah konfigurasi Mikrotik :

Sistem Keamanan Jaringan Komputer

Keamanan jaringan adalah suatu cara atau suatu system yang digunakan untuk memberikan proteksi atau perlindungan pada suatu jaringan agar terhindar dari berbagai ancaman luar yang mampu merusak jaringan.

Setting VPN Menggunakan Paket Tracer

VPN adalah singkatan dari “Virtual Private Network”, merupakan suatu koneksi antara satu jaringan dengan jaringan lain secara pribadi melalui jaringan Internet (publik).

Softswitch

Softswitch adalah suatu alat yang mampu menghubungkan antara jaringan sirkuit dengan jaringan paket, termasuk di dalamnya adalah jaringan telpon tetap;(PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler yang telah ada selama ini..

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone

Konfigurasi VoIP dan Analog Phone Menggunakan 2 Router..

Rabu, 29 April 2026

Link Budget Deployment FTTH

Tabel : Link Budget GPON

No.

Uraian

 

Satuan

Standart Redaman (dB)

Volume

Total Redaman (dB)

1.

 Kabel FO

km

0.35

17

5.95

2.

Splitter

1:2

bh

3.70

1:4

bh

7.25

1

7.25

1:8

bh

10.38

1

10.38

1:16

bh

14.10

1:32

bh

17.45

3

Konektor

SC/UPC

bh

0.25

5

1.25

SC/APC*

bh

0.35

2

0.7

4

Sambungan

Di Kabel Feeder

bh

0.10

8

0.8

Di Kabel Distribusi

bh

0.10

2

0.2

Di Drop Kabel

bh

0.10

2

0.2

Total Redaman Murni

26.73

Total Redaman + Toleransi

28


Nilai standart redaman fiber optic berkisar antara -8 dBm hingga -25 dBM dan nilai redaman terbaik berkisar antara -17dBm hingga -21dBm. Apabila nilai redaman fiber optic kalian selain yang disebutkan diatas maka biasanya akan terjadi
  1. Dibawah -17 akan menyebabkan modem epon/gpon/xpon cepat panas
  2. Diatara -21 hingga -25 koneksi akan lambat
  3. Diatas -25 koneksi loss atau tidak adanya koneksi internet.

3 Hal diatas disebabkan, karena ONU/ONT dan OLT memiliki toleransi yang berbeda disaat kita melakukan pengukuran menggunakan Optical Power Meter (OPM).

Sabtu, 04 April 2026

RIP ( Routing Information Protokol )

Mengenal apa itu RIP

RIP atau Routing Information Protokol merupakan sebuah metode routing secara dinamik. Routing ini adalah salah satu yang tertua dari yang lain. Routing ini menggunakan protokol Distance-vector routing dimana menerapkan hop sebagai Matrik routing.

Topologi
Buat topologi seperti gambar dibawah ini.


Konfigurasi IP Address
R1

R1(config)#interface fa0/0
R1(config-if)#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#exit
R1(config)#interface se0/0/0
R1(config-if)#ip address 10.20.30.1 255.255.255.252
R1(config-if)#no shutdown

R2
R2(config)#interface se0/0/0
R2(config-if)#ip address 10.20.30.2 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface fa0/0
R2(config-if)#ip address 10.20.20.1 255.255.255.0
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface se0/0/1
R2(config-if)#ip address 10.20.30.5 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown
R3
R3(config)#interface se0/0/0
R3(config-if)#ip address 10.20.30.6 255.255.255.252
R3(config-if)#no shutdown
R3(config-if)#interface fa0/0
R3(config-if)#ip address 10.30.30.1 255.255.255.0
R3(config-if)#no shutdown

Konfigurasi PC
PC0
address : 10.10.10.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.10.10.1
PC1
address : 10.20.20.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.20.20.1
PC2
address : 10.30.30.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.30.30.1
 
Konfigurasi Routing

R1
R1(config)#router rip
R1(config-router)#ver 2
R1(config-router)#network 10.10.10.0
R1(config-router)#network 10.20.30.0
R2
R2(config)#router rip
R2(config-router)#ver 2
R2(config-router)#network 10.20.30.0
R2(config-router)#network 10.20.20.0
R2(config-router)#network 10.20.30.4
  R3
R3(config)#router rip
R3(config-router)#ver 2
R3(config-router)#network 10.20.30.4
R3(config-router)#network 10.30.30.0

Verifikasi
Ping antara PC0 ke PC1
Ping antara PC1 ke PC2
Ping antara PC0 ke PC2

Status route
R1#show ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/8 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
C 10.10.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
R 10.20.20.0/24 [120/1] via 10.20.30.2, 00:00:28, Serial0/0/0
C 10.20.30.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
R 10.20.30.4/30 [120/1] via 10.20.30.2, 00:00:28, Serial0/0/0
R 10.30.30.0/24 [120/2] via 10.20.30.2, 00:00:28, Serial0/0/0

R1#
C - Connected = routing yang otomatis ada ketika jaringan dihubungkan ke router.
R - RIP = Routing dengan protokol RIP

Kamis, 02 April 2026

BAB 6. Konfigurasi Subscriber Dial UP Internet di Paket Tracer 2

Perangkat yang digunakan:

3 PC  Client

1 Router

1 Cloud-PT-Empty

Kabel Phone

Pengaturan Modem 

interface Modem0/0/0
ip address 10.10.0.1 255.255.255.0
interface Modem0/0/1
ip address 10.20.0.1 255.255.255.0
interface Modem0/1/0
ip address 10.30.0.1 255.255.255.0

Konfigurasi DHCP pada router:

R1>enable

R1#configure terminal

R1(config)#ip dhcp pool dialup1

R1(dhcp-config)#network 10.10.0.0 255.255.255.0

R1(dhcp-config)#default-router 10.10.0.1

R1(dhcp-config)#ip dhcp pool dialup2

R1(dhcp-config)#network 10.20.0.0 255.255.255.0

R1(dhcp-config)#default-router 10.20.0.1

R1(dhcp-config)#ip dhcp pool dialup3

R1(dhcp-config)#network 10.30.0.0 255.255.255.0

R1(dhcp-config)#default-router 10.30.0.1

R1(dhcp-config)#exit

Konfigurasi authentification pada router.

Sintaks :

R1>enable

R1#configure terminal

R1(config)#username nama password nama123

R1(config)#exit

Konfigurasi Cloud PT

Buka Cloud PT pilih Config

Isikan Phone Number 

Modem 0 = 1000

Modem 1 = 1001

Modem 2 = 1002

Modem 5 = 5000

Modem 6 = 6000

Modem 7 = 7000


Rabu, 04 Maret 2026

Visual Fault Locator (VFL)

VFL (Visual Fault Locator) adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi masalah atau kerusakan pada kabel serat optik. Alat ini memanfaatkan cahaya merah yang terlihat untuk menyoroti lokasi kerusakan atau gangguan dalam serat optik, membuatnya sangat berguna dalam pemeliharaan dan instalasi jaringan serat optik. VFL sering digunakan untuk menemukan patahan atau kerusakan fisik pada serat optik yang mungkin tidak terdeteksi dengan alat pengukur lainnya.

Fungsi VFL

  1. Deteksi Kerusakan Kabel: Fungsi utama dari VFL adalah untuk mengidentifikasi lokasi kerusakan pada kabel serat optik. Ketika kabel mengalami patahan atau kelainan, cahaya dari VFL akan tampak keluar dari titik tersebut, menandakan adanya masalah.

  2. Memeriksa Koneksi: VFL digunakan untuk memeriksa kualitas sambungan antar kabel serat optik. Alat ini dapat membantu teknisi memastikan bahwa sambungan tidak memiliki kebocoran cahaya, yang dapat mengurangi efisiensi transmisi data.

  3. Pendeteksian Kesalahan dalam Instalasi: VFL sangat membantu dalam memeriksa hasil instalasi kabel serat optik, sehingga teknisi dapat memastikan bahwa kabel dipasang dengan benar dan tidak ada kerusakan atau kesalahan yang terjadi selama proses instalasi.

  4. Pemeriksaan Jarak Jauh: VFL dapat digunakan untuk memeriksa kabel serat optik pada jarak yang cukup jauh, sehingga memudahkan teknisi untuk menemukan kerusakan atau masalah tanpa harus memeriksa kabel secara fisik sepanjang jalur kabel.

Cara Kerja VFL

  1. Penggunaan Sumber Cahaya: VFL bekerja dengan menggunakan sumber cahaya berwarna merah yang dipancarkan ke dalam serat optik. Cahaya ini akan bergerak melalui kabel serat optik, dan apabila terdapat kerusakan atau patahan, sebagian cahaya akan bocor keluar dari serat.

  2. Pencahayaan pada Titik Kerusakan: Jika ada kelainan pada kabel, seperti patahan atau penyambungan yang buruk, cahaya merah dari VFL akan muncul pada titik tersebut. Pencahayaan yang terlihat ini memberi petunjuk lokasi kerusakan atau masalah lainnya.

  3. Proses Pencarian: Setelah alat VFL diaktifkan, teknisi dapat mengikuti jalur kabel serat optik sambil mencari sinar merah yang menunjukkan lokasi kerusakan. Hal ini memungkinkan pemeliharaan yang lebih cepat dan lebih efisien karena kerusakan dapat ditemukan hanya dengan melihat cahaya yang muncul.

Jenis-Jenis VFL

  1. VFL Portabel: VFL portabel adalah jenis alat yang paling sering digunakan dalam instalasi lapangan. Alat ini ringan, mudah dibawa, dan memungkinkan teknisi untuk memeriksa kabel serat optik di berbagai lokasi.

  2. VFL dengan Banyak Mode: Beberapa model VFL dilengkapi dengan banyak mode atau intensitas cahaya yang dapat disesuaikan. Mode ini memberikan fleksibilitas bagi teknisi untuk menyesuaikan pencahayaan sesuai dengan jenis dan panjang kabel serat optik yang sedang diperiksa.

  3. VFL dengan Wavelength yang Berbeda: Beberapa VFL memiliki panjang gelombang yang dapat diubah. Penggunaan panjang gelombang yang berbeda dapat membantu mendeteksi kerusakan pada jenis kabel atau aplikasi tertentu.

Keunggulan Menggunakan VFL

  1. Pendeteksian yang Cepat: VFL memungkinkan teknisi untuk dengan cepat menemukan titik-titik masalah pada kabel serat optik, tanpa harus memeriksa seluruh kabel secara manual.

  2. Kemudahan Penggunaan: Alat ini sangat mudah digunakan. Dengan hanya menghubungkan VFL ke ujung kabel serat optik, teknisi dapat langsung melihat cahaya yang keluar dari lokasi kerusakan.

  3. Pendeteksian Kerusakan Fisik: VFL sangat efektif dalam mendeteksi kerusakan fisik pada kabel, seperti patahan atau kerusakan akibat penekanan, yang sering kali sulit dideteksi dengan alat lain.

  4. Penghematan Waktu dan Biaya: Dengan VFL, teknisi dapat menghemat waktu dan biaya karena dapat menemukan masalah dengan cepat tanpa perlu mengganti kabel atau melakukan pemeriksaan manual yang memakan waktu.

Cara Penggunaan VFL

  1. Menyiapkan VFL: Hubungkan VFL ke ujung kabel serat optik yang akan diperiksa. Pastikan alat dalam kondisi menyala dan siap digunakan.

  2. Mengaktifkan VFL: Nyalakan alat VFL dan biarkan cahaya merah memancar ke dalam kabel serat optik.

  3. Mencari Pencahayaan: Tekuni sepanjang jalur kabel serat optik dan amati titik-titik yang mengeluarkan cahaya merah. Lokasi cahaya ini menunjukkan adanya kerusakan atau masalah.

  4. Identifikasi Masalah: Setelah menemukan titik yang terang, periksa lebih lanjut untuk memahami penyebab kerusakan dan lakukan perbaikan yang diperlukan.

Kesimpulan

VFL (Visual Fault Locator) adalah alat yang sangat berguna dalam pemeriksaan dan pemeliharaan jaringan serat optik. Dengan kemampuan untuk mendeteksi kerusakan atau masalah pada kabel serat optik dengan cepat menggunakan cahaya merah yang terlihat, VFL memberikan cara yang efisien untuk menemukan dan mengidentifikasi masalah tanpa perlu pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Alat ini menghemat waktu dan meningkatkan akurasi dalam proses instalasi serta pemeliharaan kabel serat optik. Bagi teknisi yang bekerja di lapangan, VFL adalah alat yang sangat penting untuk memastikan jaringan serat optik berfungsi dengan optimal.


Minggu, 01 Maret 2026

BAB VI. Sistem Kontrol Dan Monitoring

Pengertian Sistem Kontrol 

Sistem kontrol (sistem kendali) telah memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Di samping sangat diperlukan pada pesawat ruang angkasa, peluru kendali, dan sistem kemudi pesawat, sistem kontrol juga menjadi bagian yang penting dan terpadu dari proses – proses dalam pabrik dan industri modern. Sebagai contoh, sistem kontrol sangat diperlukan dalam operasi – operasi di industri untuk mengontrol tekanan, temperatur, kelembaban, viskositas, dan aliran dalam industri proses, pengerjaan dengan mesin perkakas, penanganan dan perakitan bagian – bagian mekanik dalam industri manufaktur, dan sebagainya. 

Karena kemajuan dalam teori dan praktek sistem kontrol, maka sistem kontrol dapat memberikan kemudahan dalam mendapatkan performasi dari sistem dinamik, mempertinggi kualitas dan menurunkan biaya produksi, mempertinggi laju produksi, meniadakan pekerjaan – pekerjaan rutin dan membosankan yang harus dilakukan oleh manusia, dan sebagainya. 

Pengertian sistem kontrol itu sendiri adalah proses pengaturan / pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada pada suatu harga atau dalam suatu rangkuman harga (range) tertentu. Dalam istilah lain disebut juga teknik pengaturan, sistem pengendalian atau sistem pengontrolan. 

Secara umum sistem kontrol dapat dikelompokkan sebagai berikut : 

1. Dengan operator (manual) dan otomatik. 
2. Jaringan tertutup (closed-loop) dan jaringan terbuka (open-loop). 
3. Kontinu (analog) dan diskontinu (digital, diskrit). 
4. Servo dan regulator. 
5. Menurut sumber penggerak : elektris, pneumatis (udara, angin), hidarulis (cairan), dan mekanis. (kontrol otomatik teori dan penerapan : 1994) 

Sedangkan aksi pengontrolan ada enam aksi yaitu : 

1. Dua posisi (on-off). 
2. Proportional. 
3. Integral. 
4. Proportional plus Integral. 
5. Proportional plus Derivative. 
6. Proportional plus Integral plus Derivative. (teknik kontrol automatik sistem pengaturan jilid 1 : 1985) 


Pengertian Sistem Monitoring 

Layanan yang melakukan proses pengumpulan data dan melakukan analisis terhadap data-data tersebut dengan tujuan untuk memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki 

System monitoring terbagi menjadi dua bagian yaitu : 

· Connection Monitoring 

Teknik monitoring jaringan yang dapat dilakukan dengan melakukan tes ping antara monitoring station dan device target 

· Traffic Monitoring 

Teknik yang digunakan untuk melihat paket sacara actual dari traffic pada jaringan 

Tujuan Sistem Monitoring. 
Untuk mengumpulkan informasi dan data yang berguna dari suatu jaringan sehingga jaringan dapat diatur dan dikontrol. 

Alasan Sistem Monitoring 
Untuk mengawasi apa yang sedang terjadi di dalam jaringan yang memiliki sejumlah besar client dan host, system monitoring juga berguna untuk menjaga dan mendeteksi jaringan apa bila terjadi suatu kesalahan ataupun error. 

SNMP (Simple Network Management Protokol) 

Protocol yang dirancangan untuk memberikan kemampuan memantau dan mengatur jaringan computer secara sistematis, protocol ini juga dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi, dan mengkonfigurasi, peralatan jaringan, seperti 

server, printer, hub, switch, dan router di jaringan yang berbasis Internet Protokol (IP), SNMP juga dapat mengumpulkan informasi seperti kondisi CPU, temperature 

SNMP memiliki tiga elemen yaitu : 

1. Manajer 

Pelaksana dan manajemen jaringan. Pada kenyataan manager ini merupakan computer biasa yang ada pada jaringan yang mengoperasika perangkat lunak untuk manajemen jaringan. Manajer ini terdiri atas satu proses atau lebih yang berkomunikasi dengan agen-agennya dan dalam jaringan. Manajer akan mengumpulkan informasi dari agen dari jaringan yang diminta oleh administrasi saja bukan semua informasi yang dimiliki agent 

2. Agent 

merupakan perangkat lunak yang dijalankan disetiap elemen jaringan yang dikelola. Setiap agent mempunyai basis data variable yang bersifat local yang menerangkan keadaan dan berkas aktivitasnya dan pengaruhnya terhadap operasi 

3. MIB (Management Information Base) 

Dapat dikatakan sebagai struktur basis data variable dari elemen jaringan yang dikelola. Struktur ini bersifat hirarki dan memiliki aturan sedemikian rupa sehingga informasi setiap variable dapat dikelola atau ditetapkan dengan mudah 

Berikut adalah contoh tools monitoring : 

· Angry IP Scanner 

· Nagios 

· PRTG 

· OPMANGER 


Sabtu, 28 Februari 2026

Static Route 2 Router

Topologi
Buatlah topologi seperti dibawah ini.


Dari gambar diatas, semua berstatus down/status kabel merah, karena secara default interface Cisco router berstatus down semua, jadi kita harus mengaktifkannya satu persatu.


Konfigurasi

Konfigurasikan ip disetiap router sesuai dengan topologi.
R1
R1(config)#interface fa0/0
R1(config-if)#ip address 10.10.10.1 255.255.255.0
R1(config-if)#no shutdown
R1(config-if)#exit
R1(config)#interface se0/0/0
R1(config-if)#ip address 10.22.33.1 255.255.255.252
R1(config-if)#no shutdown

R2
R2(config)#interface se0/0/0
R2(config-if)#ip address 10.22.33.2 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface fa0/0
R2(config-if)#ip address 10.20.20.1 255.255.255.0
R2(config-if)#no shutdown
R2(config-if)#interface se0/0/1
R2(config-if)#ip address 10.22.33.5 255.255.255.252
R2(config-if)#no shutdown

Konfigurasikan PC sesuai topologi diatas
PC0
ip : 10.10.10.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.10.10.1
PC1
ip : 10.20.20.2
netmask : 255.255.255.0
gateway : 10.20.20.1

Dari topologi diatas, coba ping antara PC0 ke PC 1, apakah bisa?

Pasti belum bisa, karena belum ada jalur yang menunjukan jaringan PC1 ke jaringan PC0. disinilah fungsi routing. dengan routing, berarti kita menambah informasi dari jaringan lain yang sebelumnya belum diketahui.

Untuk melakukan routing lakukan ketentuan berikut :
Router(config)#ip route <network tujuan> <subnetmask network tujuan> <ip router next-hop>
Konfigurasi routing static di R1
R1(config)#ip route 10.20.20.0 255.255.255.0 10.22.33.2
R1(config)#ip route 10.22.33.4 255.255.255.252 10.22.33.2
R1(config)#ip route 10.30.30.0 255.255.255.0 10.22.33.2

Konfigurasi routing static di R2
R2(config)#ip route 10.10.10.0 255.255.255.0 10.22.33.1
R2(config)#ip route 10.30.30.0 255.255.255.0 10.22.33.6
Verifikasi
Lihat status route masing-masing router.
R1
R1(config)#do show ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/8 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
C 10.10.10.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
S 10.20.20.0/24 [1/0] via 10.22.33.2
C 10.22.33.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
S 10.22.33.4/30 [1/0] via 10.22.33.2
S 10.30.30.0/24 [1/0] via 10.22.33.2

R1(config)#
R2
R2(config)#do show ip route
Codes: C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

10.0.0.0/8 is variably subnetted, 5 subnets, 2 masks
S 10.10.10.0/24 [1/0] via 10.22.33.1
C 10.20.20.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
C 10.22.33.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
C 10.22.33.4/30 is directly connected, Serial0/0/1
S 10.30.30.0/24 [1/0] via 10.22.33.6
R2(config)# 
Lihat status routing dari masing-masing data. ada yang menunjukkan status C dan S. untuk status C ditujukan untuk routing secara connected/routing yang otomatis ada ketika jaringan dihubungkan ke router. Sedangkan untuk status S ditujukan untuk routing yang ditambah secara static oleh Administrator jaringan.

Pengecekan melalui Ping.
Coba ping antara PC 0 ke PC1  Jika sesuai prosedure diatas, semuanya akan berstatus replay.
Pertanyaan:

Kenapa setelah dikonfigurasi routng secara static, antar PC0 ke PC1  bisa saling terhubung?